Juni 17, 2008...6:25 pm

Konferensi Mahasiswa Kedokteran Indonesia

Lompat ke Komentar

Deklarasi Mahasiswa Kedokteran Indonesia (Deklarasi Hasanuddin)

Kami Mahasiswa Kedokteran Indonesia, intelektual muda bangsa yang cinta tanah air dan persatuan dengan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:

  1. Menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan martabat profesi kedokteran
  2. Mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang kami miliki demi kesehatan bangsa
  3. Menjadi teladan dan garda terdepan bagi pembangunan Indonesia

Makassar, 20 Mei 2008

Atas nama mahasiswa kedokteran Indonesia

Sebuah perspektif seorang mahasiswa kedokteran biasa-biasa saja..

Tepat tanggal 17-21 Mei 2008 lalu mahasiswa kedokteran Indonesia berkumpul di Makassar. Bukan perkumpulan biasa saja karena kumpul-kumpul yang sedianya diprakarsai ISMKI dan Unhas itu adalah napak tilas dari apa yang dilakukan senior kita di Boedi Oetomo 100 tahun yang lalu. Terlalu sentimentil tampaknya kita menyebut ini sebagai latah sejarah, karena titelnya centenary, makanya dirayakan. Semuanya tampak begitu normatif, karena memang akhir-akhir ini mahasiswa kedokteran seperti mabuk kepayang oleh romantisme masa lalu (yang lalu sekali). Sebuah pertanyaan membatin dalam ruang kecil di dada. “perlukah?”

Konferensi dibuka pada hari Sabtu tanggal 17 Mei dengan gala dinner di rumah Rektor yang sayangnya saya belum dateng di situ karena harus menemani ayah ibu sebelum mereka berangkat ke USA menjemput adik tersayang. Dilanjutkan dengan field study pada hari berikutnya, rangkaian acara hari Minggu dipuncaki dengan perdebatan pertama hingga larut malam tentang draft deklarasi dan pembagian komisi. Hari berikutnya dimulai dengan seminar di pagi hari tentang jati diri mahasiswa kedokteran dan pembahasan per komisi. Puncak acara adalah pada tanggal 20 Mei itu sendiri, dimana perdebatan tentang pembahasan komisi dan deklarasi itu sendiri.

Mahasiswa kedokteran: dimana sekarang?

Beberapa waktu yang lalu saya masih inget sekali bagaimana seorang senior angkatan 2002 ‘menyerang’ saya di depan perwakilan HMD3, kastrat senat, dan BEM UI pada sebuah pencerdasan tentang Tujuh gugatan Rakyat. Waktu itu saya dicecar dengan statement,

“….Kami tidak butuh pernyataan normatif dari anda saudara ketua kastrat. Yang kami butuh adalah sebuah gerakan konkret dimana mahasiswa kedokteran harus menjadi penggerak dan darah juang pergerakannya. FKUI dikenal bukan karena pengmasnya yang sibuk dengan baksos, atau pendpro yang menye dengan seminar-seminarnya, tapi oleh kastratnya! hakikat Kita adalah di aspal panas membela rakyat yang haknya dirampas penguasa zalim. Dan ingat ini bung ketua kastrat, UI dikenal karena FKUI baik oleh akademisnya maupun pergerakan mahasiswanya karena memang semua hal itu bermula dari kampus ini! Kalau saudara merasa pantas menjadi ketua kastrat, maka ini adalah tanggung jawab saudara! kalau tidak sanggup, lebih baik saudara mundur saja karena itu lebih baik daripada menodai nama agung mahasiswa kedokteran!…”

Sebuah Pernyataan yang kental akan kebanggaan (dan sifat2 koleris lainnya) sekali bukan? Memang, bahwa di 1908 ada sejawat kita Soetomo dkk. 1965 ada Arief Rahman Hakim, 1974 ada Hariman Siregar, 1998 juga, merupakan tanggung jawab yang berat sekali yang terkandung dalam nama mahasiswa kedokteran, Kita inisiator pergerakan Indonesia. Sepintas, jika saya seorang Maba yang baru masuk kampus pertama kali di PSAU, mungkin gw akan terpukau dan bangga sebangga-bangganya diri. Namun sekarang, sebagai seorang mahasiswa tingkat 2, miris rasanya kalo ternyata bahkan gw bertanya “mana kebanggaan yang dulu digembor-gemborkan?”. kita bahkan tak tahu apa dan siapa kita sekarang

Tampaknya doktrin maba begitu membius benak semua mahasiswa kedokteran, ketika ditanya kita menjawab dengan bangga, kepala mendongak, hidung mendengus. merasa superior. Pada realitanya, miris sekali melihatnya. Mahasiswa kedokteran sekarang lebih concern kepada – setelah lulus mau jadi dokter spesialis apa, kuliah pulang-kuliah pulang, bermain-main mencoba internet gratis fasilitas hotspot, bersembunyi di lorong perpustakaan mencari referensi untuk tugas departemen galak macam Faal. Perlahan tapi pasti, kita lupa hakikat mahasiswa kedokteran yang mengabdi!

Pergerakan fisik sekarang dipegang oleh mahasiswa non-kedokteran. Baik dari kajiannya, inisiasinya, keterlibatannya. Tidak usah berpikir jauh-jauh dan muluk-muluk bahwa mahasiswa kedokteran akan memimpin revolusi fisik, bahkan untuk partisipasi organisasi saja, minim jika tak ingin dikatakan tidak ada sama sekali. Waktu belajar yang terbatas dianggap sebagai justifikasinya. Penghapusan PTT dipandang biasa bahkan dikatakan sebagai kemajuan karena mempercepat masa studi padahal itu adalah sebuah penghianatan.

Deklarasi: Filosofi atau pernyataan Normatif saja?

Pada waktu rapat besar pembahasan komisi, saya agak tersentil dengan heroisme masing-masing delegasi yang mengedepankan altruisme dan nilai-nilai luhur lainnya. Namun saya agak terusik karena pembicaraan yang begitu panjangnya dan begitu apiknya ternyata tidak diikuti dengan solusi konkret dan inovatif yang pasti selalu ditunggu-tunggu. Terlalu terbawa oleh kebiasaan diagnosis yang terlena oleh gejala tampak tanpa menghiraukan etiologi? Atau ego romantisme masa lalu yang belum luntur juga? Kekhawatiran agak memuncak ketika pembahasan komisi ternyata tidak begitu memuaskan. Konsepnya masih mentah dan kepastian tindak lanjutnya bahkan belum jelas. Begitu pula begitu masuk pada pembahasan deklarasi. Sepintas terlihat megah, karena kita berhasil merumuskan (baru merumuskan) janji yang sepintas mirip dengan sumpah pemuda.

Sebegitu sajakah? belum. Yang jadi pertanyaan besar adalah, akankah kita bisa konsisten dengan pernyataan kita? Konsistensi dan liabilitas mahasiswa kedokteran sedang dipertaruhkan di sini dengan Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai pelindung dan penjaganya. Sediakah kita menjawab amanat sebesar itu?

Revitalisasi: satulah mahasiswa kedokteran Indonesia!

Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, jika dibiarkan mahasiswa kedokteran akan terus mengarah kepada kejatuhan dan hilang eksistensinya di dunia kemahasiswaan. Struktur geopolitik negara ini sedianya dapat melemahkan konsolidasi ISMKI – wadah bersatunya mahasiswa kedokteran Indonesia, namun hal ini tidak boleh menjadi penghalang bagi kita. Revitalisasi pergerakan, itu yang kita butuhkan, baik revitalisasi jati diri maupun revitalisasi peran mahasiswa kedokteran. Dari sini kita berangkat pada sebuah penyadaran massal kepada teman-teman mahasiswa kedokteran lainnya.

Deklarasi ini bisa jadi hanya sepenggal paragraf basi kalau kita semua gagal untuk konsisten dengan kesepakatan arah pergerakan kita. Adalah harga mati bahwa mahasiswa kedokteran Indonesia merevitalisasi pergerakannya dan yang tak kalah penting jatidirinya. Ini tantangan buat teman-teman semua, apakah kita akan diam saja atau bangkit dari romantisme masa lalu? Rakyat Indonesia menunggu kita, ayo jemput kekasih kita!

ditulis oleh Herjuno Ardhi
dalam blog http://cokelatputih.wordpress.com

1 Komentar

  • semoga pernyataan semua pihak mengenai keadaan mahasiswa fakultas kedokteran menjadi sebuah statement yang patut untuk di follow up. coba anda kaji pula mengapa birokrat pendidikan mnetapkan sistem akademis yang berbeda untuk mahasiswa kedokteran, maksud saya menggunakan sistam KBK,.. ada kemungkinan pula mereka berasumsi bahwa mahasiswa kedokteran menjadi target awal untuk NKK jilid 2 yang terlihat laten??


Tinggalkan Balasan