Mulai tahun 2008, UI mengadakan jalur penerimaan mahasiswa yang dinamakan UMB (Ujian Masuk Bersama). Sebagian besar (sekitar 70-80%) calon mahasiswa UI diambil dari jalur ini. Berbeda dengan SPMB (sekarang bernama SNMPTN), tes UMB dilaksanakan lebih awal, yaitu pada tanggal 7-8 Juni.Muncul kabar bahwa diadakannya jalur baru UMB dalam rangka menambah pendapatan universitas. Oleh karena itu, mulai tahun ini pula diterapkan apa yang dinamakan BOP berkeadilan bagi mahasiswa baru.
Apa itu BOP berkeadilan?
BOP (Biaya Operasional Pendidikan) berkeadilan adalah sistem pembayaran uang pendidikan per semester yang ditentukan berdasarkan kemampuan financial dari orang tua mahasiswa. Makin besar pendapatan orang tua, makin tinggi jumlah uang yang harus dibayarkan.
Berapakah besarnya BOP yang baru?
Untuk mahasiswa tahun 2008, besarnya BOP berkisar antara Rp 100 ribu s.d Rp 7,5 juta (IPA) dan Rp 100 ribu s.d Rp 5 juta (IPS). Jauh sekali bukan range nya?? Tentu saja ini berbeda dengan tahun sebelumnya di mana pembayaran BOP disamaratakan untuk semua mahasiswa, Rp 1.5 juta (IPA) dan Rp 1,3 juta (IPS). Dengan sistem BOP berkeadilan, mahasiswa yang penghasilan orang tuanya Rp 1 juta s.d.. 1,5 juta bisa hanya membayar 400 ribu, sedangkan yang penghasilan orangtuanya di atas 20 juta atau 25 juta/bulan akan membayar di atas Rp 6 juta/semester.
Mengapa BOP berkeadilan ini diprogramkan?
Sejak tahun 2000, UI telah menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Dengan adanya status baru ini menunjukkan kemandirian UI untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri, khususnya di bidang keuangan. Dengan kata lain, pemerintah pun mengurangi anggaran pendidikan UI yang diambil dari APBN. Akibatnya, banyak cara yang dilakukan universitas untuk menambah pemasukannya. Setelah dilakukan studi banding ke beberapa PTN BHMN di Jawa terkait sistem BOP, didapatkan data bahwa kebutuhan belajar-mengajar mahasiswa membutuhkan dana Rp 20 juta/semester, di mana untuk kedokteran membutuhkan dana 59 juta/semester. Akankah uang BOP kita naik hingga 59 juta?? Dari sinilah muncul wacana tentang BOP berkeadilan, di mana tiap orang membayar sesuai dengan kemampuannya (sesuai take home pay penanggung biaya).
Bagaimana tanggapan publik tentang BOP berkeadilan ini?
Konsep BOP ini memang cukup bagus, tapi terkesan ruwet. Tiap mahasiswa harus memberi take home pay atau info penghasilan orang tuanya. Namun tidak ada yang bisa menjamin apakah data yang diberikan mahasiswa tersebut sesuai fakta atau tidak. Apalagi dengan jumlah 5 ribu mahasiswa tentunya proses penentuan BOP akan berlangsung lama. Selain itu, pro-kontra seputar UMB dan BOP berkeadilan juga terjadi. UMB yang hanya dilakukan di kota-kota besar membuat akses adik-adik kita yang pandai tapi jauh dari kota kesulitan mengikutinya, belum lagi masalah biaya. Jika mendengar kenaikan BOP sampai Rp 7,5 juta akan timbul ketakutan orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke UI, takut tidak mampu membayar. Lalu akankah UI hanya milik mereka yang berkecukupan?? Apakah universitas “Indonesia” jika mahasiswanya hanya representasi dari beberapa kota besar saja?? Dan pertanyaan besarnya akankah UI mampu mempertahankan kualitasnya jika SDM unggul dari daerah tidak dapat masuk UI karena masalah biaya??
Bagaimana idealnya?
Tentunya rekan-rekan dapat menilai dan menentukan bagaiman konsep ideal dari pengaturan UI. Akar permasalahan sebenarnya adalah lepas tangannya pemerintah dengan memberikan status BHMN pada UI. Hal ini membuat anggaran yang harus ditangung universitas makin berat. Lalu apakah sumber pembiayaan hanya berasal dari mahasiswa? Kalau UI mau, sumber pemasukan bisa didapatkan dari pengembangan PT. Daya Makara, termasuk Wisma Makara. Selain itu, dengan riset-riset yang dilakukan para dosen dan mahasiswa diharapkan mampu menambah pendapatan universitas dengan hasil riset yang bermanfaat. Harapannya kenaikan BOP bukanlah satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan universitas. Kehidupan yang serba mahal sekarang, jangan sampai berimbas ke pendidikan. Bagaimana nasib negeri kita ke depan jika belum seluruh rakyatnya merasakan bangku pendidikan? Kitalah yang akan menjawabnya ke depan. Harapan bangsa ada di pundak kita, nasib bangsa ada dalam genggaman kita..
ditulis oleh Nur Laila Fitri
untuk Serdadu edisi Juni