Juli 10, 2008...5:45 pm

Gerakan Mahasiswa: Reformasi atau Transformasi?

Lompat ke Komentar

“Reformasi” satu kata ampuh yang selalu menjadi kebanggaan mahasiswa dalam menggembar-gemborkan tuntutan gerakannya selama ini. Setiap mahasiswa yang menunjukan taringnya maka disitulah doktrinasi “reformasi” siap dilontarkan. Baik terang-terangan melalui turun ke jalan maupun tulisan mematikan di media-media massa. Dari cara yang halus hingga paksaan untuk menerima, dan begitulah seterusnya hingga kata “reformasi” pun bukan lah hal asing bagi mahasiswa. Jangankan mahasiswa, masyarakat pun sudah bosan mendengarkan kata-kata yang selalu membahana di bumi pertiwi ini. “Terhabituasi” itu lah pilihan kata yang tepat untuk kondisi tersebut.

Apa sebenarnya yang membuat kata “reformasi” begitu populer dan dipaksakan harus menjadi populer?seolah-olah menjadi momok tersendiri akan kekhawatiran hilangnya kata-kata “reformasi” ini. Jika jawabannya adalah sebuah seajarah yang telah diukir oleh gerakan mahasiswa’98 maka kita perlu mempertanyakan lagi, sungguh kah itu termasuk reformasi?entah apa yang membuat begitu banyak hasil diskusi, kajian dan tulisan-tulisan emas di media yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa’98 adalah kunci dari reformasi selama ini. Berulangkali dan tidak bosan-bosannya terus diperdengarkan, dikemas dalam bentuk sindiran-sindiran platform gerakan mahasiswa yang katanya kini telah mati, ungkapan bahwa kini tak ada lagi namanya reformasi dan tuntutan kepada mahasiswa untuk bangkit kembali.

“Reformasi atau Transformasi?” itulah pertanyaan yang harus terjawab dibalik catatan sejarah kebanggaan gerakan mahasiswa’98. Reformasi memang selalu diucapkan dan diusung ketika momentum bersejarah itu. Menjadi symbol yang sakral sebagai pembangkit semangat dalam menggempur rezim yang membungkam demokrasi. Tapi apakah benar dengan jatuhnya rezim yang ketika masa itu berkuasa dapat dikatakan sebagai sebuah “reformasi”?

Reformasi secara umum berarti perubahan terhadap suatu sistem yang telah ada pada suatu masa. Pasca runtuhnya Soeharto, telah terjadi perubahan sistem Orde Baru yang mematikan kebebasan berpendapat menjadi sistem demokrasi sebebas-bebasnya. Karena perubahan itulah, maka disebut era Reformasi.

Ternyata perubahan tersebut tidak cukup kuat melegalisasi reformasi. Perubahan yang terjadi hanya lah sebatas filosofis dan simbolik. Secara substansi sama saja, tak ada perubahan yang bermakna bahkan statis tak bergerak menuju suatu era yang lebih baik. Bagaimana jika Indonesia hari ini disebut Orde Baru babak II?memang nama itulah yang pantas untuk kondisi bangsa ini sekarang. Korupsi masih saja ada, jika dulu Soeharto dan keluarganya adalah tersangka utamanya, maka sekarang tersangka utamanya tersembunyi dibalik tirai panggung sandiwara, tetap saja masih ada dengan jumlah yang banyak dan menggrogoti negara ini sedikit demi sedikit menuju kehancuran. Jika dulu Soeharto menjadi penguasa dengan segala kebijakan yang merugikan, maka sekarang pun juga sama, kebijakan yang merugikan masih mencekik leher kehidupan rakyat. Bedanya, kini bukan Soeharto lagi yang berkuasa melainkan antek-anteknya yang menduduki kursi penentu kebijakan.

Bukan lagi reformasi tapi transformasi. Sudah saatnya kita hapuskan semua kebanggaan bahwa kita berada di era Reformasi, tapi sesungguhnya bangsa ini dikuasai oleh era Transformasi. Transformasi adalah sebuah proses berkelanjutan yang tidak memiliki titik akhir. Selama pengaruh dari Orde Baru tetap menyelimuti tanah air ini dengan segala kerugian didalamnya, maka ini merupakan kelanjutan era Orde Baru tanpa akhir yang disebut era Transformasi.

Saatnya mahasiswa tidak lagi berlindung di nama besar masa lampau. Apapun stigma masyarakat yang berhembus saat ini terhadap gerakan mahasiswa’98, masa kini adalah masa kini, sekarang lah mahasiswa mulai berpikir masa depan. Reformasi yang sebenarnya atau sekedar transformasi?di tangan kita lah, mahasiswa, yang akan menjemput takdir reformasi itu.

ditulis oleh Alldila Hendy P.S.
penulis adalah ketua senat mahasiswa IKM FKUI

Tinggalkan Balasan